Silvia Triaristuti Tanojo & Ronny Liyanto Lie

"Dulu saya hanya seorang Ibu Rumah Tangga, sekarang saya menjadi seseorang yang berarti. Saya bisa empowering orang dan saya bisa punya global bisnis."

Perjalanan Silvia Tanojo, atau yang akrab dipanggil Vivi, di Nu Skin cukup panjang dan menarik. Vivi menjelaskan hal tersebut ibarat Law of Attraction, atau hukum ketertarikan yang menjelaskan bahwa pikiran positif atau negatif akan membawa pengalaman yang sama ke dalam kehidupan seseorang.

 

Vivi pertama kali kenal produk Nu Skin pada 2007 melalui jus G3. Ia langsung suka dengan jus tersebut yang menurutnya memberi efek positif pada tubuhnya. Namun buat Vivi yang waktu itu berstatus Ibu Rumah Tangga, harga jus tersebut cukup mahal, sehingga ia hanya membeli sekali saja.

 

Tahun 2010, ia kembali ‘dipertemukan’ dengan Nu Skin, kali ini melalui suplemen yang didapatnya dari kolega suaminya. "Wah, saya senang sekali dapat suplemen Nu Skin, karena saya tahu itu bagus," ceritanya. Ia sekeluarga mengonsumsinya dan semakin jatuh cinta dengan Nu Skin. "Saat dicek, antioksidan anak saya tinggi, makanya daya tahan tubuhnya juga meningkat."

 

Keyakinan Vivi akan produk Nu Skin semakin tinggi, dan ia semakin sering berpikir mengenai Nu Skin, meski belum tahu mengenai seluk beluk produk maupun bisnisnya.  "Saya percaya dengan law of attraction. Saya berpikir terus soal Nu Skin, sampai suatu hari saya ketemu dengan mantan kakak kelas saya. Waktu itu saya kaget lihat dia karena tampak awet muda, padahal usianya jauh di atas saya. Saya pun memuji penampilan dia. Sebaliknya, dia justru bertanya, mengapa saya tampak lebih tua dari usia saya."

 

Vivi bercerita saat itu memang tubuhnya cukup gemuk dan tidak terawat. Selain itu wajahnya juga berjerawat, masalah kulit yang sudah ia hadapi selama 23 tahun. Mantan kakak kelas tersebut mengajaknya mengobrol tentang Nu Skin.

 

Vivi kemudian diperkenalkan pada ageLOC Galvanic Spa beserta krim perawatan muka Nu Skin, Menurut Vivi, dalam jangka waktu pemakaian 5 bulan, jerawat yang selama 23 tahun menghiasi wajahnya mulai tersamarkan. Pada tahap itu pun, Vivi masih belum berpikir serius mengenai bisnis Nu Skin. Tetapi ketika ibu-ibu di sekolah anaknya mulai bertanya-tanya mengenai perawatan mukanya, di situlah Vivi menyadari potensi bisnis yang bisa ia kembangkan.

 

Tekad Harus Sukses

 

Ternyata, tanpa betul-betul ia niatkan, Vivi berhasil menarik 4 customer baru dengan pembelanjaan cukup besar. Saat mendapatkan komisi pertamanya dari Nu Skin, Vivi sebetulnya baru saja merintis usaha bersama suaminya, yaitu toko pigura. "Kami sudah punya 4 toko, dan punya target untuk bikin 20 toko di Jabotabek dalam kurun waktu 5 tahun," ceritanya.

 

Sadar bahwa ia tidak memiliki banyak relasi di Jakarta, Vivi memutuskan untuk membuka pasar di daerah asalnya, Jawa Tengah. Dari sana, jalan Vivi seakan tak terbendung. "Saya memang agresif sekali. Dalam waktu 6 bulan, sudah ada 20 Executive yang jalan. Pada masa itu saya sampai kurang tidur, Paling tidur hanya 4-5 jam sehari. Kalau sudah keluar kota saya tidak mau rugi. Sudah bayar tiket mahal ke sana, nginep di hotel, jadi saya harus sukses," tuturnya. 

 

Namun dalam perjalanannya, Vivi harus menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari cemoohan teman, yang membuatnya sempat tak ingin datang ke sekolah anaknya, hingga kecurigaan keluarga yang menuduh dia memberi suplemen pada orang tuanya hanya demi mengejar poin. 

 

Di samping itu, ia juga menghadapi satu masalah besar dalam kehidupan pribadinya. Suami yang dulu mendukungnya bergabung di Nu Skin, justru mulai protes dengan kesibukan Vivi namun Vivi tidak dapat menerima sikap suaminya tersebut. "Ketika leadership saya mulai naik, saya belum bisa kontrol. Ada masa di mana saya tidak bisa meredam emosi. Saya merasa suami tidak bersikap adil pada saya. Padahal saya berharap kami bisa menjadi partner yang equal," tuturnya.

 

Kondisi yang tidak harmonis tersebut sempat berjalan hingga 3 tahun. Vivi baru tersadar bahwa ia harus memperbaiki kondisi tersebut ketika diingatkan oleh seorang teman di Nu Skin. "Ia mengatakan bahwa leadership saya yang meningkat memang bagus, namun cara saya dealing dengan suami tidak memperlihatkan respect. Itu sesuatu yang saya tidak lihat, tapi dilihat orang lain. Kata-kata itu menyentuh hati saya. Dari situ saya mulai belajar dan mengubah cara komunikasi saya ke suami. Mulai ada improvement dalam komunikasi rumah tangga kami, dan semua itu adalah proses," ceritanya panjang lebar. 

 

Pelajaran Terbesar

 

Dari perjalanannya selama hampir 7 tahun di Nu Skin, hal terpenting yang dipelajari oleh Vivi adalah mengenai leadership. "Dulu sebagai pemilik bisnis saya punya karyawan yang bisa saya perintah karena mereka pasti ikut apa yang dibilang bos. Tetapi ketika saya masuk Nu Skin, di sini kita semua adalah partner bisnis, dan tidak bisa disuruh. Mereka punya independensi sendiri."

 

Dari situ Vivi mulai melihat tantangan, bagaimana ia bisa meningkatkan diri dalam memimpin. Vivi bersyukur bahwa di Nu Skin ada banyak training, mulai dari personality dan leadership. "Saya menyadari, ketika saya punya jaringan, mereka tidak bisa saya lepas sendiri. Saya perlu mendampingi dan grooming mereka."

 

Leadership tersebut juga mengubah Vivi dalam banyak hal, termasuk cara berkomunikasi dengan anak dan asisten rumah tangga. "Dulu asisten rumah tangga saya jarang sekali bertahan lama, sekarang mereka betah. Artinya ada yang berubah dari cara saya menangani mereka," ujar Vivi tertawa.

 

Tidak hanya itu, hubungannya dengan suami juga kian harmonis dan saling menghormati. "Sekarang kami jadi teman komunikasi yang setara. Kalau dulu, gap antara kami terlalu jauh. Dia cerita tentang kantornya saya tidak paham, saya juga tidak punya banyak bahan untuk diceritakan. Yang kita bicarakan biasanya hanya seputar rencana liburan, rencana akhir pekan mau makan di restoran apa, di mal mana, dan update soal anak-anak. Sekarang berbeda, kami banyak berdiskusi mengenai bisnis. Suami saya bahkan bilang bahwa dia bangga terhadap saya."

 

Satu hal lain yang membuat Vivi bangga adalah kesempatan untuk mengembangkan bisnis ini lebih besar tanpa batasan geografi. Jika dulu ia memulai jaringannya di Jawa Tengah, kini jaringan Vivi berkembang ke kota lain, bahkan ke luar negeri, seperti Belanda, Australia dan Amerika Serikat. 

 

"Bisnis ini sangat mobile dan juga keren banget. Dengan adanya jaringan yang bekerja di luar negeri, saya bisa bilang saya punya bisnis di Eropa, saya punya bisnis di Amerika. Dan bagi saya itu perasaan yang luar biasa.

 

Vivi menambahkan, "Dulu saya hanya seorang Ibu Rumah Tangga, sekarang saya menjadi seseorang yang berarti. Saya bisa empowering orang dan saya bisa punya global bisnis," cerita Vivi bangga.