Liana Mariza & Imansyah Sutrisno ST

Pelanggan Baru? Daftar hari ini!

"Posisi Presidential Director adalah pembuktian bahwa segala sesuatu itu bisa kita capai jika kita memiliki impian dan tujuan yang jelas.”

Perjalanan menuju kesuksesan memang seringkali bukanlah perjalanan yang mudah dan menyenangkan. Seringkali perjalanan tersebut membutuhkan usaha dan pengorbanan yang luar biasa. Setidaknya itulah yang dirasakan pasangan Liana dan Imansyah.

 

Membangun bisnis Nu Skin sejak 10 tahun silam, berbagai hal sudah mereka lalui hingga mencapai posisi 4 Year Presidential Director. Tapi tak ada hal yang lebih berat dan pengorbanan yang lebih besar dari pada kehilangan waktu-waktu terbaik bersama dua orang anak mereka yang saat ini sudah berusia 13 dan 11 tahun.

 

"Beberapa waktu lalu mantan pengasuh anak saya mengirimkan foto-foto anak saya ketika dia masih TK dan SD. Alangkah terkejutnya saya, anak-anak saya begitu gendut dan lucu. Saat itu kami menyadari sebetulnya kami kehilangan banyak momen dengan anak-anak. Anak saya yang kecil sampai kelas 4 SD selalu bersama suster pendamping karena kami pergi terus. Jadi ada rasa bersalah," ujar Iman membuka pembicaraan.

 

Lia dan Iman mulai bergabung dengan Nu Skin sejak tahun 2010 setelah dikenalkan oleh seorang teman. Lia sebelumnya merupakan pegawai bank di Yogyakarta, sementara Iman bekerja di perusahaan pelayaran asing di Jakarta, sehingga mereka harus menjalani rumah tangga jarak jauh. Keinginan untuk bersama mendorong Lia untuk meninggalkan pekerjaan di Yogyakarta dan pindah ke Jakarta sambil mencari peluang bisnis.

 

"Waktu itu saya dijelaskan mengenai perangkat kecantikan Galvanic Spa. Karena saya adalah orang yang cukup ambisius, saya langsung melihat peluang bisnisnya. Hari itu saya langsung beli Galvanic Spa dengan modal dari suami senilai Rp 4,2 juta, kenang Lia.

 

Jualan Nu Skin Sampai ke Daerah Terpencil

 

Dengan pembawaannya yang ceria dan easy going, rasanya kita bisa memahami bagaimana Lia bisa sukses di bisnis Nu Skin. Di awal berbisnis Nu Skin, dalam jangka waktu 1,5 bulan setelah bergabung, Lia meraih 6000 poin dan menjadi Executive. 

 

Lia mengungkapkan bahwa sebenarnya ia dulu adalah orang yang jauh sekali dari karakter-karakter tersebut dan harus mengalami jatuh bangun saat memulai bisnis. "Perjalanan saya untuk mencapai 6000 poin itu sebenarnya tidak mudah. Di sana saya benar-benar melepaskan ego. Saya melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan, yaitu datang ke rumah orang. Saya gosokin muka orang berharap dia beli Galvanic Spa, bahkan repeat order," cerita Lia.

 

Ia menambahkan, "Dulu saya senyum aja susah. Di Nu Skin ini, pada saat saya dikasih target 6000 poin, artinya saya harus bertemu orang dan membuat mereka mau membeli produk. Itu kan bukan hal yang mudah. Jadi saya harus benar-benar mengubah sifat saya yang keras, dan mau mendengarkan orang lain, itu tidak mudah," tuturnya. 

 

Tidak hanya orang-orang atau kenalan dekat saja yang diprospek Lia saat memasarkan produk Nu Skin. Ada masa mereka harus bolak balik ke Sumatera yaitu ke Palembang dan Jambi untuk memperluas jaringan. Ini dilakukan dengan membawa serta kedua anak yang saat itu masih kecil, juga beserta pengasuh mereka. "Dulu kami hampir tiap bulan bolak balik Jakarta-Palembang dan Jambi bawa mobil dengan rombongan anak-anak dan pengasuh mereka. Kadang sampai dua minggu di Palembang, dan itu kami jalani sekitar dua tahun. Setelah itu ketika anak-anak mulai sekolah, Lia melanjutkan dengan naik pesawat sendirian," cerita Iman.

 

Lia dan Iman juga mengungkapkan bahwa mereka memasarkan produk hingga ke kota kecil dan desa-desa terpencil di Sumatera. "Pernah kami ke Tebing Tinggi, Jambi, di desa yang tidak ada lampu atau listrik, jalannya bahkan belum diaspal. Tapi meski daerah terpencil, ternyata ada yang beli di sana. Pernah juga kami ke Pekanbaru, tidak ada teman atau saudara, nekat door to door, bahkan sampai dikejar anjing. Itupun enggak dapat," cerita Lia sambil tertawa.

 

Masa-masa harus bolak balik ke Sumatera tersebut menjadi ujian terberat bagi Lia dan Iman. Namun setelah mereka melewati masa tersebut, bisnis mulai booming. Downline yang di Jambi dan Palembang berkembang pesat.

 

Dinamika Berbisnis dengan Pasangan

 

Selain berupaya meyakinkan orang-orang yang baru dikenal, mereka juga menghadapi tantangan untuk bersinergi satu sama lain sebagai pasangan suami istri sekaligus rekan bisnis. Sudah bukan rahasia lagi bahwa berbisnis dengan pasangan sendiri memiliki tantangan yang tidak mudah.

 

"Memang pada awalnya agak susah menyatukan. Karena saya yang memulai bisnis dari awal, jadi merasa sedikit memimpin waktu itu. Ada sedikit ego saya, merasa saya paling hebat, sehingga kami sering clash. Sempat juga ada perasaan ‘kan aku yang cari duit’. Akhirnya itu menjadi semacam pekerjaan rumah buat kami. Ternyata kami harus jadi leader yang seimbang di antara kami berdua, dan menyadari bahwa kami ini adalah tim," ungkap Lia.

 

Setelah menemukan cara berkompromi dalam berbisnis, Lia dan Iman memaksimalkan apa yang menjadi kekuatan mereka masing-masing demi mencapai tujuan bersama. Lia memiliki posisi sebagai ‘ujung tombak’ yang berada di depan pada proses rekrutmen, sementara Iman memikirkan detail, memantau informasi dari perusahaan, misalnya promo, termasuk juga masalah poin dan target.

 

Tahun ini adalah tahun ke-10 Lia dan Iman membangun bisnis Nu Skin. Dalam perjalanan satu dekade tersebut mereka telah berhasil mencapai status 4 Year Presidential Director. Lalu apa maknanya pencapaian tersebut bagi pasangan ini? 

 

"Bagi saya posisi Presidential Director adalah pembuktian bahwa segala sesuatu itu bisa kita capai jika memiliki impian dan tujuan yang jelas. Sebagai pemimpin kita harus bisa memberi contoh untuk tim. Bisnis ini kan bisnis jaringan, bisnis contoh, jadi apa yang menjadi role model utama dalam bisnis ini, itulah yang harus kami kejar," ujar Lia.

 

Pencapaian Presidential Director mereka jadikan sebagai kesempatan untuk sedikit mengerem kegiatan dan fokus pada keluarga. Lia dan Iman ingin menebus rasa bersalah mereka terhadap anak-anak yang kehilangan momen terbaik dengan mereka.

 

Oleh karena itu, sejak 1,5 tahun terakhir Lia dan Iman pun mengurangi kegiatan mereka untuk keluar rumah sehingga bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama dua orang anak yang saat ini masing-masing duduk di bangku SMP dan SD. Sehari-hari mereka mengurusi antar dan jemput sekolah, mendampingi membuat pekerjaan rumah dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya.

 

Walau harus mengerem kegiatan, tidak berarti bisnis harus berhenti, karena sekarang Lia dan Iman merasakan manfaat media sosial dalam berbisnis. Lia berusaha mengatur waktu dengan fokus promosi melalui media sosial seperti Facebook, Instagram dan Youtube. "Kegiatan saya sehari-hari mengurus anak-anak, ngajarin mereka, nemenin buat PR, buat video promosi, posting, arisan," cerita Lia.

 

Dengan target fokus pada anak bungsu hingga tamat SD dalam waktu satu tahun ke depan, Lia dan Iman bertekad untuk tancap gas lagi. "Goal kami berikutnya adalah membantu lebih banyak orang. Itu yang paling utama; lifting other people. Nah, apakah nanti kami akan naik lagi? itu adalah side effect," pungkas Iman.