Ershy Rafanti & Maksun Jatmiko

"Seandainya kami tidak dididik dalam komunitas yang memiliki concern terhadap leadership, hubungan baik kepada Tuhan, rumah tangga, dan orang lain, kami tidak mungkin bisa berkompromi satu sama lain."

Perjalanan Ershy Rafanti bersama Nu Skin dimulai sejak 2012. Saat itu ia bersama suami, Maksun Jatmiko atau Miko, dan kedua anak mereka tinggal di Makassar.  Bermula dari memakai produk skin care Nu Skin, wanita yang akrab dipanggil Ezie ini tertarik untuk serius mendalami bisnisnya akibat kondisi keuangan keluarga kecilnya yang sempat menurun. 

 

"Saat itu, untuk hidup sehari-hari, pendapatan keluarga kami memang bisa dikatakan cukup. Namun yang menjadi masalah adalah ketika orang tua saya membutuhkan uang untuk biaya hidup dan biaya kuliah adik-adik," ujar Ezie. Hal tersebut membuat Ezie harus memutar otak menemukan cara menambah penghasilan.

 

Tidak banyak pilihan yang dimiliki Ezie saat itu. Ezie yang menikah muda tidak pernah memiliki pengalaman kerja, padahal ia lulus cum laude dengan gelar psikologi. Ia sempat memikirkan beberapa alternatif untuk bekerja sebagai fresh-graduate dan membangun bisnis konvensional, namun Ezie mengurungkan kedua pilihan itu karena tidak memungkinkan untuk mendukung kondisi ekonomi mereka.

 

Dalam periode bersamaan Ezie juga mengalami kondisi kulit wajah yang sangat berjerawat akibat salah memilih produk perawatan kulit. Mengikuti saran kakak iparnya yang menekuni bisnis Nu Skin, Ezie mulai mencoba skin care dari Nu Skin. Setelah mencoba beberapa lama, Ezie jadi percaya akan kualitas dan manfaat produk yang ia pakai. Tak berhenti di situ, ia juga tertarik untuk menjalankan bisnis Nu Skin dan mulai memasarkan produk ageLOC Galvanic Spa.

 

Setelah itu Ezie semakin bersemangat untuk meningkatkan bisnisnya. Salah satu cara yang ia lakukan adalah dengan mengikuti sebuah group event. Dari acara tersebut ia belajar bahwa dalam menjalankan bisnis ini sangatlah perlu untuk membangun komunitas yang luas sekaligus kuat. Ia mulai berani memperbesar network-nya di Makassar, meski mengaku sempat menghadapi trust issues dari orang-orang karena sering berpindah-pindah tempat tinggal. Pendapatannya pun naik hingga tiga kali lipat dari awal, dan setelah 15 bulan serius menekuni bisnis ini, Ezie mendapat keuntungan yang besar.

 

Dengan ketekunannya, bukan hanya dirinya yang terbantu. Akhirnya ibu rumah tangga ini juga mampu membantu ekonomi keluarganya. "Selain orang tua dan keluarga, ada banyak orang lain juga yang terbantu oleh bisnis Nu Skin ini. Mereka tidak hanya terbantu dari segi materi tetapi juga dari sisi kesehatan dan penampilan mereka," tuturnya. 

 

Adaptasi yang Berbuah Manis

 

Tanpa bekal pengalaman bekerja, Ezie sempat menghadapi tantangan dalam menawarkan produk yang ia jual, ditambah dengan kondisi kulit wajahnya yang saat itu sangat berjerawat dan sedang menjalani proses penyembuhan sehingga belum bisa merepresentasikan keunggulan Nu Skin dengan sempurna. 

 

Strategi pertamanya ialah dengan menggunakan metode online yang tidak mengharuskannya bertatap mata langsung dengan calon konsumen. "Saat itu saya memanfaatkan platform BBM. Dengan terus menerus mengganti foto profil saya di aplikasi, orang jadi penasaran dengan apa yang saya jual. Lalu, saya yang saat itu memiliki trust issues -- karena sering berpindah-pindah tempat tinggal -- akhirnya memutuskan untuk keluar dari comfort zone dan mulai mencoba bergabung dengan komunitas untuk mendapatkan network di Makassar." 

 

Ketika pertemanannya sudah semakin luas, Ezie mulai memberanikan diri untuk aktif membuat demo produk. Sebuah proses adaptasi yang tidak mudah bagi seorang introvert sepertinya. 

 

"Selama bergabung dengan Nu Skin, saya belajar bagaimana caranya untuk lebih menghargai orang dan terutama proses. Bahkan kami juga mendapat banyak pelajaran dalam hubungan pernikahan kami berkat mentor kami yang bisa mencontohkan apa yang ia ajarkan. Begitu banyak hal yang berubah dalam keluarga besar, tapi yang utama adalah perubahan diri," tuturnya.

 

Melihat perkembangan sang istri, Miko pun memutuskan untuk turut bergabung menjalankan bisnis Nu Skin dengan pertimbangan yang sangat matang. 

 

"Perempuan itu mudah merasa cukup. Itu yang membuat saya kemudian memutuskan untuk masuk ke Nu Skin dan memperbesar visi dia," ujar Miko. "Di Indonesia, Nu Skin punya market yang unik karena kebanyakan dari leader-nya adalah perempuan, sedangkan pada tingkat global lebih banyak laki-laki. Namun bagi saya, bisnis itu tidak punya gender, yang ada hanya segmentasi pasar. Meskipun mayoritas produk Nu Skin lebih feminin, kita juga mempunyai produk untuk laki-laki. Seandainya pun hanya ditujukan untuk perempuan, bagi saya itu sama sekali bukan masalah," ujarnya ketika ditanya mengenai bagaimana dirinya melihat bisnis ini.

 

Salah satu alasan yang membulatkan pertimbangan Miko kala itu adalah hasil riset mendalam mengenai spektrum bisnis Nu Skin, yang ia alami langsung saat mengajukan KPR rumah. "Ketika saya menggunakan surat keterangan penghasilan dari Nu Skin, pertama-tama ditolak karena ini bisnis MLM. Namun Ezie memperjuangkan untuk pihak bank datang langsung ke kantor Nu Skin. Akhirnya mereka datang dan bicara dengan pihak Nu Skin, dan setelah itu pengajuan kami diterima," tutur Miko.  Bagi Miko, jika pihak bank yang memiliki kompleksitas perhitungan risiko yang tinggi bisa percaya dengan bisnis ini, maka validitas bisnis Nu Skin sudah terbukti. 

 

Pernah bekerja di perusahaan multinasional dan memegang posisi sebagai District Manager, Miko sempat merasa superior dalam sisi bisnis ketika pertama kali bergabung. Sementara Ezie yang lebih lama menjalankan bisnisnya juga merasa ia memiliki pengetahuan yang lebih dalam. Kondisi ini menimbulkan banyak pertengkaran pada awal masa transisi menjalankan Nu Skin bersama. 

 

"Saat itu saya merasa lebih tahu, sedangkan Ezie merasa lebih duluan terjun ke sini. Pada akhirnya, seandainya kami tidak dididik dalam sebuah komunitas yang memiliki concern terhadap leadership, hubungan baik kepada Tuhan, rumah tangga, dan orang lain, kami tidak mungkin bisa berkompromi satu sama lain. Sekarang kami sudah bisa membagi tugas. Saya urus satu hal dan Ezie mengurus yang lain," tutur Miko menjelaskan proses yang dilaluinya selama satu tahun tersebut. 

 

Setelah membangun sebuah tim yang kompak, Miko dan Ezie kini fokus dalam mengembangkan inisiatif grup, promosi, engagement, menyusun strategi pelatihan hingga strategi jangka panjang. Hal tersebut sangat diperlukan karena pasar Indonesia masih melihat bisnis direct selling sebagai bisnis yang tidak bisa dilakukan secara profesional. 

 

Kini keduanya fokus menjalankan bisnis di Jakarta. Keluarga kecil mereka pun sudah bertambah anggotanya. Ezie mengaku perjalanannya bersama Nu Skin telah memberikan keluarganya banyak perkembangan berarti. "Menjalankan bisnis membuat saya, sebagai perempuan, berani mengambil keputusan dan mencari solusi. Tapi saya diajarkan pula oleh mentor saya untuk tetap sadar akan siapa pemimpin di dalam rumah," ujar Ezie. "Hal ini yang membantu menjaga keseimbangan hubungan kami."