dr. Yulia Sari

Pelanggan Baru? Daftar hari ini!

"Sebagai ibu, saya tak ingin menjadi role model yang keliru untuk anak saya, bahwa ketika sudah sukses, maka kamu boleh ‘berhenti’. Saya perbesar visi, saya ingin menanamkan ke anak saya bahwa meski ia telah sukses, tetapi harus tetap memiliki rasa kepedulian terhadap orang lain."

Tahun 2009 menjadi tahun yang cukup berat untuk dr. Yulia Sari. Di tahun tersebut, dr. Yulia yang kala itu hamil anak ketiga tengah menjalani pendidikan dokter spesialis. Karena membutuhkan biaya cukup besar, dr. Yulia memutuskan untuk mencari uang tambahan dengan praktek jaga malam di bagian IGD rumah sakit.  

 

"Saat itu saya sekolah dari pagi sampai sore, kemudian lanjut jaga malam. Karena overload pekerjaan, akhirnya saya harus kehilangan bayi saya karena keguguran. Di situ turning point-nya. Saya putuskan untuk berhenti jaga malam selama 1 bulan dan bulan depannya saya tidak memiliki pendapatan," kenang dr. Yulia.

 

Di titik terendah tersebut, dr. Yulia berkenalan dengan Nu Skin melalui produk Galvanic Spa. Seorang tetangga memberitahunya bahwa Galvanic Spa bisa digunakan untuk berbisnis spa treatment keliling. Ia pun melihat kesempatan besar dalam bisnis ini. 

 

"Sebulan bergabung, saya langsung jatuh cinta. Saya enggak harus praktek jaga malam, jadi punya lebih banyak waktu bersama anak-anak dan keluarga. Saya fokus saja mengerjakan tugas dan target saya di Nu Skin. Di saat itulah saya berpikir bahwa Tuhan mengenalkan Nu Skin sebagai jalan mendapat dana tambahan untuk mengerjakan tesis," ungkapnya.

 

Tanggalkan Gengsi

 

Saat itu tak sedikit yang memandang sebelah mata keputusan dr. Yulia bergabung dengan Nu Skin. Cemoohan dan omongan miring pun datang silih berganti. Namun yang bisa ia lakukan adalah menebalkan telinga dan fokus pada bisnis yang tengah ia jalani.

 

"Banyak yang bertanya, ‘Ngapain sih? Sebentar lagi juga jadi dokter spesialis, enggak usah lah kerja begitu.’ Mereka juga menunggu kapan saya akan quit dari Nu Skin. Namun itu malah jadi pemicu saya untuk bertekad bahwa I will not quit. Anak saya kan minum susu dan susu itu enggak bisa saya beli hanya dari gengsi. Jadi saya fokus saja dengan apa yang bisa saya kerjakan. Dan yang terpenting, orang-orang terdekat seperti orang tua dan keluarga, mendukung saya untuk tetap di Nu Skin," kenang ibu dari tiga orang anak tersebut.

 

Meski memiliki tekad yang kuat namun dr. Yulia mengakui bahwa ada beberapa momen di mana ia merasa ingin berhenti dari Nu Skin. Waktu itu, ia dihadapkan pada beberapa pilihan; antara Nu Skin, meneruskan karier sebagai dokter spesialis di sebuah rumah sakit swasta atau menjadi dosen. Dalam kegalauan tersebut, dr. Yulia mendapat saran untuk memilih jalan yang bisa mendekatkan dirinya pada impiannya.

 

"Di tahun ketiga bergabung dengan Nu Skin, saya mendapat tawaran untuk menjadi dokter di sebuah rumah sakit swasta yang cukup besar di Jakarta. Tak hanya itu, saya juga memiliki kesempatan untuk menjadi dosen dan mendapat beasiswa kuliah di Jepang yang merupakan impian saya sejak lama. Seorang senior saya kemudian menyarankan untuk memilih yang paling mendekatkan saya pada impian saya. Ya sudah, saya enggak lihat sekarang, tetapi masa depan. Setelah mempertimbangkan secara matang, saya putuskan untuk melepas opportunity yang pertama dan memilih Nu Skin," dr. Yulia bercerita.

 

Sekitar dua setengah tahun kemudian, dr. Yulia berhasil menjadi Presidential Director dan masuk dalam kategori Circle of Excellence. Downline-nya pun telah tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Palembang hingga Medan. Bahkan berkat kepemimpinannya yang apik, di dalam timnya, terdapat empat orang yang telah pula tergabung dalam Circle of Excellence.

 

Berbagi Kebahagiaan

 

Kesuksesan yang diraihnya tersebut membuat dr. Yulia merasa beruntung. "Uang memang tak bisa membeli kebahagiaan, tetapi dapat memberikan kita pilihan lebih. Misalnya, sebelum bergabung di Nu Skin, waktu saya di rumah untuk orang tua, anak dan keluarga sedikit sekali karena pekerjaan saya memiliki jam kerja konstan yang tidak bisa diatur sesuka hati. Namun di Nu Skin, kita bisa mengatur kapan kita bekerja, me time, quality time bersama keluarga, jalan-jalan dan sebagainya." ungkapnya.

 

Selain itu, menjalankan bisnis Nu Skin mengajarkan dirinya untuk tak sekadar menjalankan bisnis dan memperpanjang jenjang karier, tetapi juga ada nilai lifestyle serta leadership. Oleh karenanya, dr. Yulia memutuskan untuk tidak berhenti sampai di sini saja.

 

"Orang yang tidak lagi melatih fisik dan otaknya, maka perlahan tubuhnya akan melemah. Makanya, ketika beberapa tahun lalu saya masuk di zona nyaman dan malas untuk meraih tangga yang lebih tinggi, kemudian saya justru merasa bersalah. Mengapa? Sebagai ibu, saya tak ingin menjadi role model yang keliru untuk anak saya bahwa ketika sudah sukses, maka kamu boleh ‘berhenti’. Saya perbesar visi, saya ingin menanamkan ke anak saya bahwa meski telah sukses, tetapi harus tetap memiliki rasa kepedulian terhadap orang lain," ujar dr. Yulia.

 

Dalam bentuk konkret, hal tersebut dirumuskan dr. Yulia dalam visi 20 tahun ke depan. Dalam 10 tahun pertama, ia berencana untuk mendirikan sebuah yayasan beasiswa bagi mahasiswa kedokteran yang kurang mampu. Sepuluh tahun berikutnya, ia berencana membangun sebuah rumah sakit berbasis sosial. Impian ini pun mendapat dukungan kuat dari orangtua dan keluarga kecil dr. Yulia yang melihat bahwa ini adalah jalan untuk mendorong kebaikan, seperti visi Nu Skin, force for good.

 

"Karena saya juga dulu merasakan struggling-nya menjadi mahasiswa kedokteran yang notabene membutuhkan banyak biaya, maka ide tersebut saya rasa menjadi jalan terbaik saya untuk menyebarkan kebaikan kepada sesama. Kemudian ide membuat rumah sakit berbasis sosial bukan profit saya rasa bisa diwujudkan. Nantinya mahasiswa yang mendapat yayasan beasiswa tadi akan diminta untuk mengabdi di rumah sakit tersebut dalam jangka waktu tertentu," harap dr. Yulia.

2020_05_COE_LifeStyle25
2020_05_COE_LifeStyle24