Sri Resnowati & Satriadi

"Kita harus merasa kita mampu dan harus percaya diri, karena semua akan percuma kalau kita tidak merasa kita bisa. Semua hasil tersulit, terburuk, dan terlemah sekalipun bisa menjadi jalan yang bagus. Kalau sudah mampu berpikir seperti ini, semua tantangan akan terlihat mudah."

Di usia 47 tahun, Sri Resnowati merasa perlu melakukan perawatan untuk mengurangi kerutan di wajahnya. Lalu ia diperkenalkan oleh adiknya kepada produk ageLOC Galvanic Spa dari Nu Skin. Awalnya, Sri mengira Nu Skin hanyalah sebuah perusahaan penjual produk kecantikan, sampai saat adiknya memberi tahu bagaimana Nu Skin bisa menghasilkan keuntungan bagi ibu lima anak ini. 

 

Dengan pikiran ingin memperkenalkan produk ini kepada teman-temannya yang juga membutuhkan, Sri pun membeli produk ageLOC Galvanic Spa. Ia merasakan khasiat nyata dari produk ini dan segera mendemonstrasikannya kepada teman-temannya, dengan maksud ingin balik modal.

 

"Nu Skin punya sistem dan marketing plan yang bagus. Jadi siapapun orangnya, walau tidak punya latar belakang bisnis sama sekali pasti bisa. Semua pembelian kita pasti terakumulasi dengan baik pada sistem dan otomatis memudahkan kita untuk punya karier di sini," tutur Sri menjelaskan. 

 

Mengakhiri karier profesionalnya di perbankan pada tahun 1992 karena melahirkan, Sri mulai serius bekerja dengan Nu Skin pada akhir tahun 2008. Baginya, Nu Skin merupakan solusi untuk orang-orang yang ingin punya penghasilan, namun tidak mau atau tidak bisa keluar rumah karena kesibukannya sehari-hari. Saat itu tidak pernah terpikir oleh Sri untuk memulai bisnis sendiri.

 

Meski sempat beberapa tahun menganggur, Sri menceritakan bagaimana rutinitasnya sebagai seorang ibu rumah tangga dengan lima anak telah membantunya bersama Nu Skin. "Ketika saya harus beradaptasi di awal, saya tidak merasakan kesulitan yang signifikan. Karena saya mengurus lima anak, sehingga rasanya memang tidak ada yang lebih sulit daripada itu," jelasnya sambil tertawa. 

 

Salah satu keunggulan strategi Sri sebagai seorang Ibu Rumah Tangga adalah memanfaatkan network yang ia miliki dari sekolah anak-anaknya. Pada awalnya, ia banyak mendapatkan downline dari orang tua murid. Ketika mulai mendapatkan penghasilan sendiri lagi, ia mulai menargetkan kenaikan konstan setiap bulan. 

 

Dalam 11 tahun perjalanannya bersama Nu Skin, sosok keluarganyalah yang memotivasi Sri untuk terus menekuni bisnis ini. Setelah menghabiskan banyak waktu mendedikasikan diri kepada suami dan anak-anaknya, ia mengaku bersama Nu Skin ia bisa lebih mengenal diri sendiri. Ini dikarenakan ia dituntut untuk menjadi seorang pemimpin sehingga membuatnya lebih peka terhadap kualitas dirinya. Sri belajar untuk melakukan goal setting, menekan ego, menanggung kesalahan tim, bersabar menghadapi orang, belajar mengenal lingkungan, hingga tidak dengan cepat menilai orang lain begitu saja. 

 

Sri juga belajar untuk tidak membuang waktunya membicarakan hal-hal tidak penting, ia justru menginvestasikan waktunya untuk memajukan Nu Skin. Secara kesehatan ia juga merasakan dampak yang sangat positif. Sri merasa jauh lebih sehat di umur saat ini yang sudah kepala lima, dibanding ketika ia berumur 40 tahun.

 

Bangkit dari Kesulitan dengan Mimpi Besar

Pada tahun 2017, Sri sempat mengalami penurunan dari segi penghasilan, dan ini berdampak pada poinnya. Saat itu ia juga harus merawat suaminya yang sakit selama satu tahun, sehingga tidak bisa secara penuh fokus memikirkan bisnis ini maupun mengembangkan timnya.

 

Namun Sri belajar bahwa kunci utama untuk bisa sukses menjalankan bisnis direct selling, adalah dengan tidak pernah berhenti berpikir positif. "Kita harus yakin kita mampu dan harus percaya diri, karena semua akan percuma kalau kita tidak merasa kita bisa. Semua hasil tersulit, terburuk, dan terlemah sekalipun bisa menjadi jalan yang bagus. Kalau sudah mampu berpikir seperti ini, semua tantangan akan terlihat mudah," ujar Sri. Tentu pola pikir seperti ini tidak ia dapatkan dalam waktu sekejap, ada sebuah proses panjang di balik cerita ini.

 

Sri harus kehilangan sang suami tercinta karena penyakit yang dideritanya pada 18 September 2018, sementara di saat berdekatan, ia juga harus melangsungkan pernikahan anaknya di tanggal 1 Oktober 2018. "Tidak ada satu hal pun yang bisa menyakiti kita tanpa izin Allah, sehingga kita harus bisa mensyukuri semuanya," tuturnya. 

 

Saat itu yang ia pikirkan hanyalah bahwa ia harus menahan emosinya demi bisa memberikan yang terbaik. "Saya belajar untuk melakukan secara maksimal, hasilnya saya serahkan kepada Allah. Kalau sampai tidak tercapai apa yang kita mau, tidak masalah, karena artinya memang belum waktunya."

 

Salah satu upaya Sri untuk bangkit dari situasi berat tersebut adalah dengan berekspansi ke daerah Lampung dan berinvestasi di sana. Lampung ia pilih karena merupakan tempat asal suaminya. Selain itu, Sri melihat daerah di selatan Sumatera tersebut punya potensi yang besar, namun belum memiliki leader yang kuat. Ia berencana untuk membangun sebuah wadah untuk menjalankan Nu Skin di sana. Caranya adalah dengan menyediakan tempat di mana orang-orang bisa melakukan cek kesehatan, training, hingga mencari tahu tentang produk-produk Nu Skin. Sarana ini akan ia sediakan dalam bentuk tempat spa, yang mana semua peralatan dan produknya akan diambil dari Nu Skin. Ia bertekad untuk memotivasi orang-orang di sana untuk bisa melihat potensi mereka.

 

Sri melihat bisnis Nu Skin secara keseluruhan akan menjadi investasi yang berguna hingga masa depan. Terbukti, perusahaan ini sudah berdiri selama 35 tahun lebih di ranah global dan 15 tahun di Indonesia sendiri. Dengan marketing plan yang bagus, Sri merasa strategi bisnis Nu Skin akan lebih relevan terhadap zaman dan berdampak pada kelangsungan bisnisnya. Saat ini Sri menargetkan untuk memiliki bisnis yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

2020_05_COE_LifeStyle11
2020_05_COE_LifeStyle10