Sanny Himawan & Junardi, SH

"Sadar bahwa saya dikelilingi orang-orang yang tepat, saya melihat Nu Skin sebagai sebuah platform yang bisa membantu saya menemukan a meaningful success."

Lulus dari sebuah universitas di Amerika Serikat, Sanny Himawan pernah mengalami rasanya bekerja di advertising agency ketika kembali ke Jakarta pada awal tahun ‘90-an. Seiring berjalannya waktu, Sanny merasa bahwa kariernya tidak akan membawa perubahan yang signifikan, apa lagi kemudian ia menikah dan mengandung. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya.

 

Namun meski telah memutuskan akan fokus sebagai Ibu Rumah Tangga, Sanny merasa tidak bisa jika hanya menganggur di rumah saja, ia pun  akhirnya mencoba membangun sebuah bisnis dalam bidang yang digemarinya.

 

"Saya seorang perempuan yang menginginkan kesuksesan. Saya tidak bisa settled hanya karena saya menikah dengan seseorang yang sudah mampu membiayai dan memberikan saya kenyamanan," ungkapnya. Dengan dorongan keinginannya, Sanny mulai mengeksplorasi passionnya, terutama dalam bidang seni. Ia mengikuti berbagai kelas, mulai dari merangkai bunga, mendalami interior, dan beberapa bidang lain yang berhubungan dengan design. Dalam proses ini, ia dipertemukan dengan berbagai orang yang punya determinasi yang sama dengan dirinya sehingga memotivasi Sanny untuk membangun bisnis sendiri. 

 

Pada tahun 1996, Sanny mendirikan sebuah sekolah seni dengan nama Sansan Hobby Center, yang terinspirasi dari nama panggilannya, Sansan. Sekolah ini mencakup performing arts, music class, dance class, hingga visual arts. Dengan modal terbatas, ia menjalankan kelas belajar ini di garasi rumahnya sendiri dan mengajarkan anak-anak tetangganya pada sore hari. Ia turun tangan sendiri untuk mengajarkan melukis hingga membuat sculpture menggunakan clay impor dari Jepang. Sanny yang pandai menjalin hubungan dengan anak-anak akhirnya mulai dikenal oleh banyak ibu lainnya yang tertarik mendaftarkan anak-anak mereka untuk diajari olehnya.

 

Passion and persistence lah yang membuat perjalanan bisnis Sanny berkembang dengan pesat. 

 

Bisnis pribadinya ini berjalan dengan lancar dan terus berkembang, hingga belasan tahun kemudian, ketika Sanny berusia 42 tahun, ia dipertemukan dengan seorang teman kuliahnya yang baru saja pulang setelah 13 tahun berada di luar negeri. Teman tersebut telah mendalami Nu Skin dan mengajak Sanny untuk bergabung bersama. Awalnya ia pesimis dengan bisnis direct selling ini, mengingat bisnis yang telah ia bangun dari nol sudah mencapai titik aman dan nyaman.

 

Setelah sempat menolak dengan cara halus, dua tahun kemudian Nu Skin meluncurkan beauty gadget pertamanya, ageLOC Galvanic Spa. Beauty gadget ini menarik perhatian Sanny sepenuhnya. Selain karena teknologi kecantikan yang ditawarkan, Sanny melihat potensi yang lebih besar dari bisnis Nu Skin yang sudah mendunia. Ia membuktikan sendiri khasiat dari ageLOC Galvanic Spa, dan mulai menghadiri kelas-kelas bisnis Nu Skin. 

 

Dari kelas-kelas tersebut ia mulai mendapatkan banyak ilmu untuk berbisnis. Sanny segera dapat melihat hasil yang besar dan ia pun membandingkan penghasilannya dengan bisnis pribadinya. Ia kemudian serius untuk menjalankan Nu Skin sepenuhnya.

 

Meraih Arti Kesuksesan

 

Setelah kemudian mempercayakan bisnisnya kepada para partner, Sanny pun perlahan mulai naik level di Nu Skin. "Sadar bahwa saya dikelilingi orang-orang yang tepat, saya melihat Nu Skin sebagai sebuah platform yang bisa membantu saya menemukan a meaningful success." Baginya, transisi yang ia jalankan tidak terlalu sulit karena Sanny dapat melihat benang merah dari kedua bisnis ini. "With Nu Skin. Ini juga yang telah saya terapkan selama 20 tahun membangun bisnis saya sendiri," ujar Sanny. Dari kepercayaan akan tumbuh relasi yang kuat antar sesama mitra bisnis.

 

Pada awalnya, Sanny merasa kesulitan menurunkan egonya sendiri. Ia harus kembali membangun sebuah bisnis dari nol, dengan keraguan dari orang-orang di sekitarnya. Tetapi ia berprinsip bahwa mendapatkan sesuatu dan menghasilkannya sendiri adalah hal yang berpengaruh terhadap kesuksesannya. 

 

Bisa menghasilkan sesuatu dan membaginya dengan orangtua dan keluarga besarnya juga merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Sanny.  Hal inilah yang ia dapatkan bersama Nu Skin. "Sebagai seorang perempuan, kita mampu membawa diri kita sendiri untuk maju. Jadi pesan saya, jangan masuk Nu Skin karena mengharapkan uang saja, karena kalau kita punya tim yang berpikir seperti itu, tidak akan bertahan lama," katanya.

 

Saat ini Sanny turut aktif sebagai Board Member dalam program Southeast Asia’s Children’s Heart Fund yang merupakan perwujudan budaya Nu Skin. Program kepedulian sosial ini berfokus pada anak-anak di Asia Tenggara yang terlahir dengan kelainan jantung. Selain menyisihkan satu persen dari penghasilannya bersama Nu Skin setiap bulan, Sanny juga berperan aktif untuk mengajak seluruh member Nu Skin bergabung mendukung program ini. "Satu persen yang kecil bagi kita, nilainya akan sangat berarti bagi anak-anak di seluruh Asia Tenggara yang membutuhkan bantuan. Saya ingin mengubah cara pikir orang-orang yang merasa belum mampu menyumbang, karena ini bukan tentang menjadi mampu dahulu, tetapi apa pun kondisi kita, kita pasti bisa menyisihkan satu persen."

 

Bagi Sanny, nilai sukses bukanlah semata tentang uang saja, melainkan apa yang bisa kita berikan kepada orang-orang dan apa yang kita terima dari lingkungan sekitar kita. Setelah mendalami bidang yang disukainya, yaitu seni, Sanny menemukan kesuksesan bermakna yang selama ini ia cari bersama Nu Skin.

2020_05_COE_LifeStyle20
2020_05_COE_LifeStyle21