Joanna Wiraatmadja & Helena Lee

Pelanggan Baru? Daftar hari ini!
Pelanggan Baru? Daftar hari ini!

"Kami tidak merasa bahwa kami kerja untuk Nu Skin, tapi kami adalah Nu Skin. Karena melalui Nu Skin kami memiliki hidup yang lebih baik, sekaligus membantu banyak orang untuk punya kehidupan lebih baik."

Enam belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Ibarat umur seorang manusia, 16 tahun adalah usia remaja yang penuh gejolak sekaligus penuh semangat dan harapan. Mungkin itulah yang dirasakan Joanna dan Helena setelah 16 tahun bertumbuh bersama Nu Skin.

 

Keduanya pertama kali mengenal Nu Skin pada 2004, sewaktu Joanna tinggal di Singapura. Saat itu Nu Skin bisa dikatakan baru memasuki pasar Asia Tenggara, bahkan belum buka di Indonesia. Joanna sedang membangun sebuah bisnis di Singapura, sementara Helena bekerja sebagai direktur di sebuah perusahaan event organizer yang cukup besar.

 

Menurut Joanna, Helenalah yang pertama kali percaya dengan Nu Skin melalui produk-produknya. Setelah dikenalkan beberapa lama, Joanna pun mulai melihat peluang besar dari bisnis produk Nu Skin. Waktu itu ia langsung berpikir tentang potensi pasar di Indonesia.

 

Tak lama kemudian Nu Skin membuka kantor di Indonesia dan Joanna bertekad untuk ikut membangun pasar Nu Skin Indonesia. Pada tahun itu, pamor bisnis direct selling belumlah sebagus saat ini, masih banyak orang yang memandang direct selling atau MLM dengan skeptis. "Di awal buka di Indonesia, kami sangat bersemangat untuk memulai. Tapi kemudian setelah 1 tahun jadi drop, karena kepercayaan masyarakat terhadap industri ini sangat rendah," cerita Joanna.

 

Karena itu, sebagai salah satu pionir di bisnis Nu Skin Indonesia, Joanna telah mengalami berbagai naik turun dan perjalanan bisnis yang berliku. Butuh waktu yang lama bagi Joanna dan Helena untuk benar-benar bisa mendulang kesuksesan. "Bisa dibilang 5 hingga 8 tahun pertama sangat sulit. Kami tidak tahu bagaimana cara membangun market dan bisnis ini. Saya bahkan sempat bilang ke Helena agar ia balik lagi ke pekerjaan lamanya. Dan pikiran untuk berhenti dari bisnis ini sering kali datang karena kami tidak tahu mesti melakukan apa."

 

Believe in Nu Skin

 

Namun tak peduli seberapa sering ada pikiran negatif dan ingin menyerah, setiap kali pula Joanna dan Helena menguatkan diri. Joanna mengatakan sejak awal ia sudah punya keyakinan yang sangat dalam pada Nu Skin. "Saya memang sudah percaya bahwa Nu Skin akan besar suatu hari. Ini saya lihat melalui pertumbuhannya dari tahun ke tahun. Tapi sebetulnya apa yang membuat saya benar-benar bertahan adalah keinginan yang ada dalam diri sendiri. Saya selalu bertanya pada diri saya sendiri, apakah saya mau begini terus atau saya ingin meraih mimpi saya," ungkap Joanna.

 

Selain itu, bekerja keras di Nu Skin bagi Joanna juga sangat penting karena ini menjadi semacam pembuktian diri. Joanna datang dari keluarga yang berkecukupan di Indonesia. Ayahnya adalah seorang pengacara perbankan ternama. Di saat sebagian besar anggota keluarga menentang keputusannya untuk fokus di Nu Skin, ayahnya lah yang bisa memahami keputusannya tersebut. Hubungan mereka dekat, dan Joanna selalu mengingat berbagai nilai dan prinsip yang diajarkan oleh ayahnya. Terutama soal menghargai orang lain. 

 

Meski memiliki berbagai kemudahan dari keluarga, Joanna ingin berhasil dengan caranya sendiri. "Suatu hari," Joanna bercerita, sang Ayah pernah bertanya,  ‘Apa yang kamu ingin capai dalam hidup ini? Ingin jadi seseorang seperti saya (profesional) atau ingin jadi seorang jutawan?’ Tentu saja karena ingin menghormati beliau, saya jawab bahwa saya ingin jadi seperti beliau," ujar Joanna tertawa. "Padahal dalam hati, saya tahu bahwa saya ingin menjadi seorang jutawan. Itu mimpi saya, dan saya lihat Nu Skin bisa mewujudkan mimpi saya itu."

 

Bagi Joanna, hal tersulit yang harus ia hadapi untuk meraih mimpinya menjadi jutawan adalah mengalahkan ego dan berdamai dengan dirinya sendiri. "Saya punya masalah besar terkait gengsi saya. Dulu pikiran saya adalah, ‘Kalau enggak mau, ya sudah.’ Padahal kan tidak bisa begitu. Jadi ada banyak sekali trial and error, bukan tentang bisnisnya namun tentang diri sendiri."

 

Helena setuju dengan hal tersebut. "Yang paling sulit dalam bisnis ini memang bagaimana mengatur emosi dan ego kita. Selain itu, buat saya bukan sekadar permasalahan ego, tapi lebih ke rasa takut. Ketakutan yang besar. Takut keluar dari comfort zone. Takut untuk menerima penolakan. Dulu saya sering kali setiap akan telepon orang untuk follow up, ketika telepon tersambung, langsung saya matikan lagi," kenang Helena.

 

Menemukan Formula Sukses

 

Meski melalui berbagai naik turun, Joanna dan Helena membuktikan bahwa mereka bisa. Keduanya telah mencapai Circle of Excellence I dan 5 Year Presidential Director. Di tahun ini, mereka set goal untuk meraih Circle of Excellence II.

 

Tetapi meski telah mencapai semua hal tersebut, Joanna mengakui baru di sekitar 4 tahun terakhir mereka menemukan apa yang disebutnya sebagai formula of success. Sebuah fase dalam kehidupan pribadinya menurut Joanna menjadi momen yang benar-benar membuka matanya. "Saat itu saya berada di titik terendah dalam hidup. Tiba-tiba saya mulai belajar untuk menjadi ikhlas, merelakan hal-hal yang tidak bisa saya kontrol. Saat itulah saya mulai melihat apa yang tidak bisa saya lihat sebelumnya. Dari situ, pada 3,5 tahun terakhir, saya merasa semua lebih positif, karena saya bisa bantu orang lebih banyak untuk bertumbuh. Memang belum begitu signifikan, tapi saya melihat mereka bertumbuh."

 

Saat ini yang menjadi fokus bagi Joanna dan Helena adalah membantu tim di bawah mereka untuk semakin berkembang dan sukses. "Sekarang saya punya beberapa kelas kecil, mengajar untuk tim saya di Nu Skin, membangun fondasi yang kuat. Karena saya percaya bahwa setiap orang punya kesempatan sama untuk sukses," ujar Joanna.

 

Selain menemukan formula untuk sukses, Joanna juga mengungkapkan bahwa ia menemukan formula untuk bekerja lebih baik. Ia bisa bekerja dari mana saja, kadang 2 bulan di Amerika Serikat, kadang 2 pekan di Jepang, dan di waktu-waktu tersebut ia terus bekerja baik melalui telepon atau melalui video call. 

 

"Ketika orang bertanya apa yang menjadi tujuan saya, jawaban saya adalah ‘Kebebasan untuk memilih’. Buat saya kebebasan memilih datang dalam beberapa level. Kebebasan memilih di mana saya ingin berada, kebebasan untuk memilih apa yang saya lakukan. Contohnya, saya bisa tinggal di Amerika selama dua bulan, tapi masih bisa tetap bekerja dari sana. Itu kebahagiaan buat saya. Itu adalah cara hidup yang sangat saya nikmati. Saya senang bicara dengan orang baru, berada di lingkungan baru. Dan itu hanya bisa saya lakukan dengan bekerja dengan Nu Skin."

 

Berkali-kali Joanna juga menegaskan bagaimana Nu Skin telah menjadi bagian dari hidupnya yang sudah tak dapat lagi dipisahkan. "Kenapa ini jadi bagian hidup kita? Karena saya pun ingin mengubah hidup pada waktu itu, dan sampai sekarang pun masih ingin hidup lebih baik. Namanya orang hidup, kita harus selalu melakukan perubahan kan. Kami tidak merasa bahwa kami kerja untuk Nu Skin, tapi kami adalah Nu Skin. Karena melalui Nu Skin kami memiliki hidup yang lebih baik, sekaligus membantu banyak orang untuk punya kehidupan lebih baik."

 

Perjalanan bersama Nu Skin bagi Joanna dan Helena merupakan sebuah personal journey, bukan lagi tentang Nu Skin sebagai bisnis. "Nu Skin adalah tentang leadership, jika saya tidak bisa lead diri sendiri, bagaimana saya akan lead orang lain. Kalau saya tidak bisa lead diri sendiri untuk membuat perubahan dalam hidup, bagaimana kami akan membantu orang lain untuk berubah. Inilah yang kami sebut personal journey, tutup Joanna.