Liana Mariza & Imansyah Sutrisno ST

Meninggalnya ayahanda tercinta tiga tahun yang lalu sempat membuat kami kehilangan “Why” dalam menjalankan bisnis Nu Skin. Nu Skin merupakan bisnis yang kami kelola bersama, sehingga jika satu kehilangan motivasi, yang lain juga akan terkena dampaknya. Dua tahun lamanya kami menjalankan bisnis Nu Skin tanpa “Why” namun tetap mempunyai “Goal”. Tetapi saat itu, mencapai sebuah “Goal” sepertinya bukan lagi menjadi keharusan untuk kami, karena apa yang telah kami dapatkan dari Nu Skin selama ini sudah lebih dari cukup untuk kehidupan kami dan keluarga. 

 

Ternyata, menjalankan bisnis Nu Skin tanpa “Why” dan “Goal” yang jelas membuat bisnis kami tidak menuju ke arah yang lebih baik. Yang terjadi adalah dalam kurun waktu 2 tahun, organisasi kami mengalami penurunan lebih dari 40%. Padahal, saat itu Nu Skin sedang berkembang sangat pesat dan kami melihat begitu banyak Top Leader tercetak di bisnis ini dari organisasi lain. 

 

Akhir 2016 kami mulai me-review kembali perjalanan kami di bisnis Nu Skin; mengapa organisasi kami tidak berkembang, bahkan banyak sekali leader dalam organisasi kami yang berhenti dari bisnis ini. Hal pertama yang harus kami lakukan saat itu adalah menemukan kembali “Why” yang hilang dan menentukan “Goal” yang menjadi keharusan. Tanpa “Why” dan “Goal”, mustahil kami bisa berkembang karena keduanya merupakan daya tarik dan daya dorong untuk mencapai impian dan tujuan dalam menjalankan bisnis Nu Skin. 

 

Kami menemukan kembali “Why” itu, bukan untuk kami, melainkan untuk orang-orang yang telah kami janjikan untuk berubah kehidupannya dengan menjalani bisnis Nu Skin. Merekalah orang-orang yang mau berjuang bersama kami untuk mengejar “Goal” dan memenuhi “Why” mereka. Langkah berikutnya, kami membuat “Goal” untuk seluruh tim serta membuatkan strategi yang akan digunakan untuk mengejarkan “Goal” tersebut. Kami mulai mengosongkan gelas kami untuk banyak belajar dan bertanya pada semua orang di bisnis ini -- mulai dari upline leader juga crossline --  yang saat itu mengalami pertumbuhan luar biasa. 

 

Selama 2 tahun menutup diri dari hingar bingar bisnis Nu Skin, kami sangat ketinggalan dalam membuat strategi. Nu Skin sudah berubah menjadi ‘Bisnis Zaman Now’, yang tak hanya dilakukan dengan cara offline seperti yang kami lakukan sebelumnya. Nu Skin menjelma menjadi bisnis yang fun dan bisa dilakukan di mana saja, oleh siapa saja dan kapan saja. Karenanya, strategi yang kami buat harus bisa mengejar ketertinggalan dan dapat diimplementasikan oleh seluruh tim dalam organisasi kami.

 

Sebagai leader, kami memutuskan untuk memimpin dengan memberi contoh (Lead by Example). Karenanya, kami berusaha untuk mengejar kualifikasi Team Elite 3 Years yang terabaikan selama dua tahun. Kami mulai menarik gerbong grup yang sempat mengalami goncangan, berada di depan dalam mengejar “Goal”, dan menjadi contoh yang utama untuk seluruh mitra bisnis kami. Leader tak hanya memotivasi dan mendorong, tapi harus bisa memberikan bukti atas ucapannya; karena disanalah akan terjadi respect dari seluruh downline. Tak hanya didorong untuk mengejar “Goal”, tetapi mereka bisa melihat bahwa kami juga bersama-sama mereka, berjuang mengejar apa yang menjadi “Goal” bersama.  

 

Divider